Tuesday, June 24, 2008

The Secret

Banyak rahasia tersembunyi dalam kasatnya raga
Sedalam apa diri mencari
sejauh mana ia bertanya
adakah akal sampai tuk menjawab
atau biarkan jiwa terbebas

Thursday, June 19, 2008

Ekstasi

Hantar aku dalam peraduanku
dan bawalah aku dalam mimpimu
yang kan membawa damai dalam diri
dan menyejukkan hati
lepas dari segala penat dunia
dan jangan bangunkan aku
sampai aku ingin kembali berkelana
dalam rimba dunia yang fana
ingin kunikmati rasa dalam alam rasa
dunia dibalik dunia
dan aku akan kembali
hanya ketika ingin ku kembali
kini, sampai nanti

Thursday, June 12, 2008

Sayonara

June 12, 2008. Hari ini ketika tangan berat tuk menulis dan lidah susah tuk berucap.
Sayonara bukan sekedar kata karena ia mempunyai makna. Definisi saya, anda dan mereka bisa saja berbeda meski mungkin tetap pada "maksud" yang sama. Mungkin hanya pada konteks ketika kata itu digunakan bisa bermakna ganda.

Sayonara, apakah akan disertai tawa atau derai airmata....? jika saya yang harus berucap saya akan berucap dengan penuh penekanan disertai kedewasaan tanpa tekanan dan kesadaran jiwa.

Sayonara, Akankah menjadi awal dari sebuah cerita atau akhir sebuah kisah..?
Sayonara, saya berkeinginan tuk mengawali sebuah cerita. Last night, June 11, 2008. 30 minutes to 12.00 pm, menjadi harapan saya tuk memulai segalanya. Inilah awal sebuah cerita. Dan seseorang disana mungkin menyadarinya.

SAYONARA, please define by yourself...!!!

Teruntukmu disana yang setia menemaniku bekerja. :)

Monday, April 7, 2008

Jiwa yang kembali

Waktu terus berjalan dan bergulir tanpa mengenal lelah dan meninggalkan masa lalu. Pun begitu langkah kakimu kawan. Kulihat jiwamu perlahan kembali dan tersadar dengan reliatas yang ada. Meskipun mungkin masih ada jiwa dan pikiranmu yg masih tertinggal disana, namun jiwa dan pikiranmu hanya tinggal mengucapkan salam perpisahan saja dengannya. Untuk semua ilmu dan hikmah yg telah kau himpun dan kini kau kuasai. Kini kulihat bukan amarah lagi yang ada namun senyum puas dihatimu, senyum kemenangan serta kebahagiaan. Semua ini karunia Tuhan mu kawanku dan sudah sepantasnya dirimu selaku hamba-Nya berucap syukur kepada-Nya. Karena aku tahu kau tak akan pernah lelah untuk menyentuhkan kepala dan dahimu diatas bumi sebagai rasa syukurmu.

Kini aku melihat ia yang selalu menari-nari dalam pikiran dan hatimu, mulai merasa lelah. Perlahan namun pasti ia segera berhenti menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dan segera berlalu dalam pikiranmu. Karena waktu tak pernah berhenti dan takkan bisa dihentikan, ia pun kan segera terlewatkan dan terlupakan. Mari kawan kita tatap ke depan tuk menyongsong hari baru yang menjadi impianmu. Dengan bekal yang telah dipelajari dan kau kuasai, melangkahlah dengan langkah penuh kebijaksanaan dan tersenyumlah dengan apa yang selalu kau temui dan kau hadapi kelak dalam perjalananmu nanti. Semoga kau senantiasa dalam tuntunan-Nya dan senantiasa diberkahi kehidupanmu.

Ketika kau tak yakin rindumu tuk siapa, sandarkanlah rindumu selalu pada-Nya. Karena jika kau sandarkan kepada selain-Nya maka pasti akan selalu menimbulkan tanya dalam hatimu. Adakah ia yang sejati atau hanya fatamorgana..?


dba'wan

Wednesday, March 5, 2008

Peluk Erat Kesedihan

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya
Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa
Semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan

Tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai oleh kesedihan.
Diundang maupun tidak, ia akan senantiasa datang.
Banyak kejadian bahkan terbukti, semakin ia dibenci dan ditakuti,
Semakin ia senang dan rajin berkunjung ke diri kita.
Maka, sengsaralah hidup mereka yang membenci kesedihan.

Kesedihan dan kegembiraan adalah dua saudara kembar
yang melakukan kegiatannya secara bergantian.
Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia
mana pun tidak akan bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah.
Ia seperti dua sayap dari seekor burung.
Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya
"burung" kehidupan.

Tanpa kesedihan, jiwa manapun tidak akan memiliki daya tampung
yang besar terhadap kebahagiaan.
Ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu,
kesedihan sedang menunggu di pembaringan.

Persoalannya adalah, punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran
untuk berpelukan mesra dengan kesedihan?
Inilah sebuah kualitas pribadi yang dimiliki oleh sangat sedikit orang.
Untuk menerima kebahagiaan, kita tidak memerlukan terlalu banyak kedewasaan.
Akan tetapi, untuk berpelukan mesra dengan kesedihan,
diperlukan kearifan dan kedewasaan yang mengagumkan...



(Kahlil Gibran)